Kamis, 21 Maret 2013

Proyeksi Diri Terhadap PRIDE (Presiten, Responsible, Inisiatif, Dedikatif, dan Evolusioner)


Tema LKMM TD XIV kali ini adalah PRIDE yakni kepanjangan dari Presisten, Responsible, Inisiatif, Dedikatif, dan Evolusioner. Di sini saya akan menjelaskan tentang proyeksi diri saya terhadap sifat – sifat dalam kata PRIDE tersebut.

Presiten. Dalam KBBI, presisten berarti keras hati, gigih. Presisten bisa diartikan pantang menyerah untuk mencapai sesuatu yang ditargetkan. Berarti presisten berhubungan dengan besarnya keinginan seseorang untuk meraih apa yang dinginkannya. Presitensi yang tinggi dapat membuat orang lebih semangat menjalani tugas – tugasnya. Presistensi yang tinggi juga dipengaruhi oleh niat dan motivasi seseorang dalam menjalankan sesuatu. Seseorang yang memiliki presistensi yang tinggi, maka juga akan memiliki optimisme yang tinggi pula.






Sifat presisten dalam diri saya memang tidak terlalu tinggi. Hal itu dikarnakan saya tidak ingin terlalu diperbudak oleh keinginan saya. Selain itu, saya juga tidak ingin orang lain melihat saya sebagai orang yang egois karena sifat presisten saya yang terlalu tinggi. Dan yang paling saya khawatirkan, jika saya terlalu presisten, maka saya akan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan saya.

 Tetapi, sifat presisten saya juga saya munculkan ketika saya sedang menghadapi tugas. Saya selalu mentargetkan kapan tugas saya harus selesai. Dengan presistensi yang tinggi, saya tidak pernah mengeluh saat ada tugas – tugas yang banyak. Saya optimis bahwa tugas tersebut bisa saya selesaikan. Dengan begitu, saya tidak terbebani oleh bayangan tugas yang sangat banyak. Saya hanya mencoba menyelesaikannya satu per satu sesuai target. Saya tidak akan berhenti mengerjakan tugas sebelum tugas itu selesai. Sehingga pada akhirnya semua tugas saya terselesaikan. Tidak peduli seberapa jauh saya telah melangkah, yang penting saya sudah selangkah lebih jauh dari pada kemarin.

Responsible. Responsible berarti tanggung jawab. Hal ini berarti kita harus mempertanggung jawabkan segala tindakan dan ucapan kita. Saat kita berkata, kita harus berani mempertanggun jawabkan bahwa yang kita katakan tersebut adalah benar dan jika kita telah berani berjanji, maka kita harus menepatinya.
Sifat tanggung jawab telah ditanamkan ke dalam diri saya sejak kecil. Orang tua saya mengajarkan pada diri saya untuk tidak pernah takut mengakui kesalahan dan jangan pernah lari dari pertanggung jawaban. Seperti contohnya, saat saya mengotori rumah, maka orang tua saya segera menyuruh saya membersihkannya hingga bersih seperti sebelum saya mengotorinya. Contonya lagi, saat saya memecahkan gelas, jangan pernah menyembunyikan pecahan itu agar tidak ketahuan. Tapi segeralah melapor ke pada orang yang lebih tua. Karena, jika kita tidak mempertanggung jawabkan perbuatan kita, maka akan timbul masalah – masalah lain. Dan kita tidak akan pernah bisa tenang.

         Selain itu, sifat tanggung jawab saya juga pengaruh dari golongan darah saya, yaitu A. Orang dengan golongan darah A adalah orang yang bertanggung jawab, selalu tepat waktu, dan taat pada peraturan. Oleh karena itu, saya juga terbiasa datang on time. Jika saya berkumpul, saya sering menjadi orang yang datang paling awal. Dan saya juga selalu taat pada peraturan yang ada. Saya yakin bahwa peraturan itu dibuat demi kenyamanan dan keamanan bersama. Dan peraturan itu dibuat agar tidak merusak sistem yang berlaku. Maka, jika saya melanggar peratuan, berarti saya telah secara tidak langsung merusak sistem yang ada. Dengan sifat tanggung jawab yang besar, kita akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Orang yang bertanggunjawab adalah orang yang disiplin.

Inisiatif. Inisiatif adalah sifat seseorang untuk memulai sesuatu. Jadi, orang – orang yang mempunyai inisiatif yang tinggi, adalah orang yang menjadi penggerak dalam suatu organisasi. Dan biasanya, mereka adalah orang yang tidak pernah menganggur karena mereka selalu bisa membuat kegiatan yang berguna. Orang yang inisiatif juga bisa melihat dan memanfaatkan peluang yang ada.
Hal yang tidak terkoordinasi dan tidak dipersiapkan akan menimbulkan masalah. Dan masalah membuat diri saya tidak nyaman, saya ingin masalah itu cepat terselesaikan agar saya tidak punya beban lagi. Oleh karena itu, saya sering berinisiatif memulai menkoordinasikan dan mempersiapkan sesuatu agar saya tenang. Hal itu dapat dilihat saat saya memulai mengkoordinasikan angkatan LKMM TD 14 untuk pemilihan ketua kelas. Sehingga, setelah saya mengkoordinasikkannya, pemilihan ketua kelas pun dapat berlangsung. Dan saya sudah tidak terbebani lagi oleh proses pemilihan ketua kelas. Kemungkinan besar, jika saya tidak mengkoordinasi terlebih dahulu, akan ada teman saya yang lain yang akan memulainya. Tetapi, kenapa kita ragu untuk memulai kebaikan yang sebenarny bisa kita lakukan?

Sifat inisiatif muncul ketika seseorang memiliki ide dan mau melaksanakannya. Seperti saat pembuatan yel untuk angkatan XIV LKMM TD. Saya juga berinisiatif membuat yel untuk angkatan ini, dan akhirnya yel buatan saya disepakati untuk dipaka. Hal tersebut merupakan keuntungan karena saya terlah berinisiaif.

Dedikatif. Dedikatif erat hubungannya dengan pengabdia. Dedikatif juga bisa berarti kesungguhan seseorang mengerjakan sesuatu. Dedikatif akan muncul jika sesorang mempunyai responsibelitas dan presistensi yang tinggi, sehingga orang tersebut akan menemukan passion dalam kegiatan yang ia kerjakan. Jika sesorang mengerjakan sesuatu dengan dedikasi yang tinggi, maka pekerjaan tersebut bukan menjadi beban, tetapi menjadi hobi.

Sifat dedikatif dalam diri saya bisa dilihat dari cara saya mengerjakan tugas. Saya tidak pernah menganggap tugas sebagai beban. Saya menganggap tugas itu sebagai kewajiban saya. Dan saya yakin bahwa saya bisa menyelesaikan tugas tersebut. Saya senang saat mengerjakan tugas, karena saya akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang baru saat saya melakukannya. Walaupun tidak selesai, paling tidak saya sudah mendapat wawasan baru. Bukankah pengalaman itu lebih berharga dari pada emas?

Revolusioner. Revolusioner adalah sifat yang dimiliki seseorang dimana orang tersebut dapat mempengaruhi lingkungannya untuk melakukan perubahan. Seseorang yang revolusioner juga merupakan orang yang peka terhadap perubahan. Dan mereka cenderung menjadi pendukung bagi perubahan. Dan revolusi akan berakibat fatal jika revolusi tersebut bersifat memaksa dan tidak memperdulikan faktor yang lain.

Saya bukanlah orang yang terlalu revolusioner. Karena saya juga beranggapan bahwa sesuatu yang baru tidak selalu menjadi sesuatu yang lebih baik. Solusi yang baru, juga tidak selalu solusi yang lebih baik. Dan perubahan yang tiba – tiba akan menyebabkan variabel –variabel yang sudah stabil menjadi labil. Dan hal itu menyebabkan ketidak seimbangan. Contohnya adalah Perubahan itu baik jika dilakukan secara perlahan. Dan efeknya akan lebih bertahan lama dari pada perubahan yang revolusif.

Tetapi, saya bukanlah orang yang tidak suka terhadap perubahan. Saya sangat suka terhadap revolusi ketika revolusi tersebut menciptakan sesuatu yang baru yang bisa menjadi solusi bagi masalah yang ada bukan menambahkan masalah. Contohnya adalah penciptaan teknologi baru yang bisa mempermudah pekerjaan seseorang. Saya juga orang yang cepat menyesuaikan diri dengan perubahaan yang terjadi, tetapi tanpa pernah menghilangkan nilai – nilai yang sudah ada. Perubahan itu pasti terjadi, bisa lebih baik atau lebih buruk. Oeleh karena itu, bijaklah dalam menyikapi perubahan.